DEFISIENSI INSULIN DAN RESISTENSI

Posted by admin 04/02/2018 0 Comment(s)

DEFISIENSI INSULIN DAN RESISTENSI

  

Resistensi insulin (Insulin resistance) adalah suatu keadaan dimana suatu jalan normal yang memberi signal yang mengantar pesan-pesan biokimia antara insulin dan sel-sel targetnya terganggu. Sebagai hasilnya, insulin tidak menggunakan efek-efek normal atau penuhnya. Dengan kata lain, tubuh menjadi resisten terhadap efek-efek dari insulin.

Apa yang dikerjakan insulin secara normal ? Pankreas mengeluarkan jumlah yang bervariasi dari insulin sepanjang hari sebagai jawaban atas makanan. Insulin bekerja untuk memelihara gula darah (glucose) pada tingkat-tingkat normal. Jadi, insulin mencegah gula darah menjadi terlalu tinggi. Jika insulin tidak bekerja dengan cara ini, gula darah tinggi dan diabetes akan terjadi. Insulin adalah suatu hormon yang bertindak atas reseptor-reseptor dari sel-sel untuk memicu reaksi-reaksi biokimia yang kompleks yang mengontrol gula darah. Sel-sel yang ditargetkan oleh insulin terutama adalah sel-sel lemak (adipocytes), sel-sel otot (striated myocytes), dan sel-sel hati (hepatocytes).

Pada resistensi insulin, suatu kerusakan pada reseptor-reseptor ini menyebabkan insulin menjadi kurang efektif dari yang seharusnya secara normal. Jadi, pankreas harus memproduksi lebih banyak insulin daripada normal agar supaya dapat memelihara tingkat gula darah normal. Awalnya dalam proses ini, tingkat-tingkat insulin yang meningkat mencukupi untuk memelihara darah darah normal. Pada pasien-pasien ini, bagaimanapun, walaupun gula darahnya normal, kondisi dari kelebihan berat tubuh atau obesitas adalah tetap sebagai petunjuk-petunjuk bahwa mereka adalah resistensi insulin. Pada titik waktu ini, hanya tes-tes darah yang canggih (seperti tes euglycemic clamp ) dapat mendeteksi resistensi insulin pada tingkat biokimia.

MEKANISME RESISTENSI INSULIN

‡KGD ↑↑ à Sekresi Insulin ↑↑

Kadar Insulin darah ↑↑

Dalam jangka waktu lama

Down Regulation à RESISTENSI INSULIN

RESISTENSI INSULIN

‡

resistensi insulin adalah kondisi dimana sensitivitasinsulin menurun. Sensitivitas insulin adalahkemampuan dari hormone insulin menurunkan KGDdengan menekan produksi glukosa hepatic danmenstimulasi pemanfaatan glukosa didalam otot skeletdan jaringan adipose. Tingginya KGD menyebabkan sel pancreas terus menerus menghasilkan insulin, karenabanyaknya kebutuhaninsulin maka menyebabkan sel pancreas tidak mampu lagi memenuhi asupaninsulin(batas ambang = 120mg/dl) sehingga terjadipenurunan reseptor insulin yang menyebabkanresistensi insulin.

Kriteria Metabolik Sindrome
↑ kadar trigliserid (>150 mg/dl)
↓ kadar kolesterol HDL (L : < 40 mg/dl, P : < 50 mg/dl)
↑ tekanan darah (> 130/85 mmHg)
↑ GDP (> 100 mg/dl)
Penatalaksanaan Asma Eksaserbasi akut
O2 nasal 2-4 lpm
Inf.RL 1500 cc/24 jam
Bronkodilator :
Salbutamol sulfate 200 µg 2 semprotan tiap 20 mnt dlm 1 jam

Terbutaline sulfate 250 µg 2 semprotan tiap 20 mnt dlm 1 jam

Dexametashon inj 2 x 1 amp
Aminophilin inj 4 x 1 amp
GG 3 x 1 tab
 

Kriteria Pneumonia
Sesak nafas disertai pernapasan cuping hidung dan tarikan dinding dada
Panas badan
Ronki basah sedang nyaring pada “broncho pneumonia” atau suara bronkial: nada pekak
Foto thoraks: infiltrat berupa bercak-bercak (broncho), difuse merata/ pada satu atau beberapa lobus
Leukositosis
Indikasi & kontraindikasi Pungsi cairan pleura
Indikasi :
1. Terapeutik : Mengurangi sesak nafas

Efusi pleura, Hidropneumotoraks
2. Diagnostik : pemeriksaan sitologi, kultur mikroorganisme (resistensi dan sensitifitas) thd BTA, jamur dan parasit

Kontraindikasi :
1. Gagal jantung (yang belum diatasi)
2. Keadaan yang tidak dapat mentolerir komplikasi pneumotoraks
3. Keadaan umum sangat lemah sehingga tidak dapat duduk/setengah duduk
4. Jumlah cairan terlalu sedikit
5. Gangguan hemostasis yang belum diatasi
6. Pasien dengan positive pressure ventilation karena resiko fistel bronkhopleura dan tension pneumothoraks

Infeksi kulit yang luas di daerah punksi
 

Kasus
Pasien L 45 th dg Vommiting, SGOT : 88, SGPT : 99.

Pmrx : sklera icterus, hepatomegali, spider nervi.

Info yg dibutuhkan u/ dx :
Muntah brp kali? Muntah darah /-? Sejak kapan icterus? Ada acites /-?

Ada eritema palmaris/-?

Pmx cholestasis intra hepatal : Inspeksi, palpasi, perkusi,
Px yg menyebabkan cholestasis intra hepatal :
 

 

Kasus
Pasien (dewasa) panas ±4hari, mialgia, pekerjaan di sawah à pemeriksaan yg diperlukan ?

 

 

 

 

7 macam tes diagnostik
cepat untuk pasien yang terinfeksi bakteri/parasit atau virus?
DL
UL
Sedimen urin
Mikroskopis langsung : Pewarnaan/pengecatan spesimen
Biakan / Kultur
Test Serologi : Elisa Test
Dx Molekuler : PCR (polinuklear chain reactive), Hibridisasi DNA-DNA atau DNA-RNA untuk deteksi adanya gen-gen spesifik patogen dari spesimen pasien.
 

Kriteria Lupus nefritis
Proteinuria dalam ≥ 1 gram/24 jam
Hematuria (>8 eritrosit/LPB)
penurunan fungsi ginjal sampai 30%
 

Kriteria Nefrotik sindrome
Edema anasarka
Proteinuria masif ≥ 3,5 g/hari
Hiperkolesterolemia
Lipiduria
 

Gejala awal/tanda awal gagal jantung
Ngongsrong
Edema tungkai
sesak
 

Terapi angina Pektoris tak Stabil
 

 

Kasus
Ny.W 60 th, dg LBP ada riwayat jatuh.

Fisik Diagnostik : Inspeksi, Palpasi, perkusi,

Nyeri tekan (+), Lasseque test (+), 

Foto yang di perlukan : foto Lumbosakral AP, Lateral
Terapi :
Tirah baring

Asam mefenamat 3 x 500 mg

Na diklofenak 3 x 25 mg

Fisioterapi

 


Kasus
Tn.D nyeri sendi kaki kanan, timbul bercak (+) kemerahan di wajah.

Fisik Diagnostik : 
Beda Reumatoid arthritis dan SLE
Ket            RA                SLE

Artritis             Erosif        sifatnya nonerosi

3.

Pemeriksaan yg diperlukan :
 


DIC (Disseminated Intravascular Coagulation) :
Penyebab :
Penyebab DIC dapat diklasifikasikan kedalam Akut atau kronik, sistemik atau lokal dan DIC dapat menyebabkan kondisi tunggal atau kondisi yang multiple.

Pada DIC yang akut, tetap tergantung dari penyebab terjadinya DIC

– Infeksi

o Bacteri ( gram negatif sepsis, gram positif infeksi )

o Viral ( HIV, varicella, Hepatitis )

o Fungal ( Histoplasma )

o Parasitik ( Malaria )

– Malignansi

o Hematologi ( akut myelositis leukemia)

o Metastatik ( Mucin-sekresi adenokarsinoma )

– Kehamilan

o Abrupsi palsenta

o Emboli cairan amniotik

o Eklmasia

– Trauma

– Luka bakar

– Kecelakaan kendaraan bermotor

– Keracunan bisa ular

– Transfusi

– Reaksi hemolitik

– T4ransfusi masiive

– Penyakit liver- gagal hepar acut

– Pemasangan alat bantu prostetik

– Alat bantu fungsi ventrikel

Pada DIC yang kronik atau subakut dijumpai : thrombosis pada thrombin formasi dan muncul tanda dan gejala tromboembolis vena.

– Sirkulasi

o Tanda perdarahan spontan atau yang mengancam jiwa

o Tanda perdarahan subacut

o Tanda thrombosis lokal atau meluas

– Sistem syaraf Pusat

o Penurunan kesadaran tidak spesifik atau stupor

o Penurunan focal tapi jarang terjadi/ditemui

– Kardiovaskuler sistem

o Hipotensi

o Tachikardi

o Sirkulasi kolaps

– Sistem pernafasan

o Ada Pleural Frictio rub

o Tanda ARDS

– Sistem Gastrointestinal

o Hematemesis

o Hematochezia

– Sistem Genitourinari

o Tanda azotemia dan gagal ginjal

o Asidosis

o Hematuria

o Oliguria

o Metoragia

o Perdarahan Uterin

– Sistem Dermatology

o Petechie

o Purpura

o Bula hemorragie

o Nekrosis kulit tungkai bawah (purpura fulminan)

o Infark lokal dan gangren

o Perdarahan luka dan perdarahan subkutanius dalam

o thrombosis

Ada dua penyebab utama terjadinya DIC yaitu :

Respon inflamasi sistemik, menyebabkan aktivasi cytokine menimbulkan aktivasi koagulasi ( sepsis, trauma mayor ).
Pelepasan atau penyebaran material (fat, phospolipid ) prokoagulan kedalam pembuluh darah ( kanker, kasus kehamilan )
Pada keadaan tertentu kedua penyebab diatas dapat terjadi secara bersamaan seperti pada kasus trauma mayor atau nekrotik pankreatitis berat. Ada beberapa kondisi lain yang dapat menyebabkan DIC yaitu :

Infeksi bakteri
Trauma berat
Tumor padat dan hematologic malignan
Obstetrik kalaminis ( Abrupsi placenta, emboli cairan omnion )
Kerusakan vaskuler
Penyebab lain termasuk keracunan berat atau reaksi imunologi ( Reaksi transfusi ) atau reaksi inflamasi ( Acut pankreatitis )
Kriteria DIC